Notification

×

Iklan

Iklan

"Gemuruh Takbir & Pawai Obor: Karang Taruna Bongo III & Mahasiswa UMGo Ciptakan Momen Spektakuler

31/03/25 | 10:03 WIB Last Updated 2025-03-31T03:10:14Z



 semestanews.id Gorontalo,31 maret 2025 – Desa Bongo III, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, pada malam Minggu (31/3/2025) merayakan malam takbiran dengan semarak. Ratusan warga, terutama remaja dan anak-anak, memenuhi jalanan untuk mengikuti tradisi tahunan ini yang bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga sebagai ungkapan syukur atas keberhasilan menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Malam itu, suara takbir menggema di seluruh pelosok desa, menandai dimulainya serangkaian acara yang mengikat warga dalam suasana gembira. Pawai takbiran yang diiringi dengan pawai obor, arak-arakan abit, dan penerbangan lampion menciptakan pemandangan yang luar biasa dan sarat makna.

Sejak sore hari, suasana persiapan sudah terlihat di berbagai sudut desa. Para peserta pawai sibuk menyiapkan obor, mengenakan pakaian adat, dan mempercantik kendaraan hias yang akan meramaikan iringan. Setelah salat Isya selesai, ratusan peserta dengan obor dalam genggaman mulai melangkah menyusuri jalan utama desa, menciptakan suasana khidmat yang sangat mengesankan.

Acara malam itu tidak hanya menarik perhatian masyarakat setempat, tetapi juga mendapatkan apresiasi dari jajaran pemerintah daerah. Bupati Boalemo, Rum Pagau, beserta Camat Wonosari, PJ Kepala Desa, dan perwakilan anggota DPRD Boalemo turut hadir menyaksikan langsung kegembiraan warga.

Dalam sambutannya, Bupati Rum Pagau memberikan penghargaan kepada pemuda Desa Bongo III yang telah berinisiatif menjaga tradisi keagamaan yang penuh makna ini. Ia berharap agar kegiatan semacam ini terus dilanjutkan dan ditingkatkan dari tahun ke tahun, karena selain menyemarakkan malam takbiran, acara ini juga mempererat tali silaturahmi antarwarga.

 "Ini adalah kegiatan positif yang harus terus dijaga dan ditingkatkan," tegasnya.


Tak hanya ditandai dengan pawai obor, malam takbiran di Bongo III juga dimeriahkan dengan arak-arakan abit, di mana para pemuda mengenakan pakaian adat Gorontalo sembari membawa perlengkapan takbiran. Tradisi ini telah dilestarikan secara turun-temurun dan selalu menjadi momen yang sangat dinantikan oleh warga.
Ketua Karang Taruna Bongo III, Syarifudin, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bentuk syiar Islam yang bermakna.

 "Kami ingin menjaga tradisi ini agar tetap lestari. Pawai obor, arak-arakan abit, dan gema takbir adalah bagian dari warisan budaya yang harus kita lestarikan," ujarnya.

Keindahan malam takbiran semakin terlihat dengan penerbangan ratusan lampion ke angkasa. Lampion-lampion yang diterbangkan oleh warga melambangkan harapan dan doa menyambut hari kemenangan.
"Malam takbiran di Desa Bongo III bukan hanya sekadar perayaan, melainkan juga mencerminkan identitas masyarakat setempat dalam menyambut Idulfitri".

Salah satu pemuda juga Subhan Nurrohim, mengungkapkan kebahagiaannya bisa ikut serta dalam kegiatan ini.
“Seru sekali! Kami bukan hanya bisa berkumpul dengan teman-teman, tapi juga merasakan kebersamaan dalam menyambut Lebaran,” ungkapnya.

Mahasiswa KKD Tematik UMGo, Erwin Ibrahim, mengungkapkan kebahagiaannya dapat berpartisipasi dalam kegiatan ini. 

"Keren! Kami bisa berkumpul dengan teman-teman dan merasakan kebersamaan serta kekeluargaan dalam menyambut Lebaran," ujarnya.

Warga berharap agar tradisi ini terus diadakan setiap tahun dengan berbagai inovasi menarik. Mereka percaya bahwa kegiatan ini tidak hanya menghidupkan suasana malam takbiran, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan dan gotong royong di tengah masyarakat.

Dengan berakhirnya pawai dan penerbangan lampion, warga Bongo III pun bergegas kembali ke rumah masing-masing, bersiap menyambut pagi Idulfitri dengan penuh suka cita.(kk)




×
Berita Terbaru Update